Berlomba menuju “Kekerasan”

2 hal yang mau nggak mau membuat saya harus membuka text editor dan memencet satu demi satu tombol di keyboard laptop.

1. Revisi Equal Loudness Contour di tahun 2003

2. Data kuantitas penjualan CD music yang terus mengalami penurunan grafik.

 

Langsung aja ke point pertama di atas.

 

Equal Loudness Contour (ELC) bisa dikatakan sebagai konsensus bersama tentang bagaimana telinga manusia memperceive loudness (kekerasan suara). Ada semacam korelasi hebat antara frequency response dan level kekerasan suara yang diterima oleh telinga manusia. Frequency response yang kita perceive ketika mendengarkan musik di level kekerasan 70dBA dengan yang 90dBA sangat audible perbedaannya. Ketika anda mendengarkan di level 70dBA (level yg sama dengan kekerasan percakapan kita menggunakan mulut) biasanya anda membutuhkan response yg lebih di range frequency low dan high, alhasil anda menaikkan level di freq 80-100Hz dan 8-10kHz pada equalizer graphic home stereo.

 

ELC pertama kali dikeluarkan pada tahun 1933 oleh 2 orang ilmuwan dari Bell laboratory yang bernama Fletcher&Munson, kemudian di tahun 1956 dua orang lain yang bernama Robinson & Dadson mengeluarkan curves ELC baru dengan metode pengambilan sample yang mereka klaim lebih baik dari pada metode yang digunakan oleh Fletcher&Munson. Perbedaan keduanya pada media untuk menginject pure tone pada responden, Robinson&Dadson menggunakan single speaker (front presentation) sedangkan Fletcher&Munson menggunakan headphones (side presentation). Di tahun 2003, Tohoku University mengeluarkan revisi lainnya dari ELC(ISO 226:2003), kali ini periset mereka berasal dari berbagai negara dan respondennya juga berasal dari berbagai ras. 

 

Beralih ke point kedua tentang penjualan CD yang semakin menurun kuantitasnya. 

 

Sebagai seorang audio engineer saya tidak ingin berasumsi bahwa pembajakan dan teknologi internet dengan budaya “file sharing-nya” menjadi biang kerok dari issue point kedua. Di wilayah ini justru saya mempertanyakan kembali pada kualitas rekaman pada CD commercial audio. Issue kualitas bukan pada friksi kualitas spectral sonic yang terjadi antara digital dan analog dalam ranah audio, sekali lagi ini bukan pada kualitas spectral sonic. Kualitas yang dimaksud adalah standard levelling CD commercial audio di era digital ini. Semenjak media digital yang bernama CD keluar sekitar tahun 1983, terjadi revolusi besar-besaran terhadap standard levelling audio commercial. Hal ini disebabkan karena level noise floor pada digital domain lebih rendah dibandingkan analog sehingga memungkinkan para mastering engineer menjaga peak level sembari mengangkat average level (RMS). Hasilnya pun jelas, dynamic range pada setiap material menjadi rendah, semua terdengar sama kerasnya, tidak ada pelan, tidak ada hentakan, tidak ada yang rendah dan tinggi. Lalu dimana musik sebagai dinamika?

 

Mengapa dynamic range dalam musik itu penting?

 

Sebuah sistem reproduksi audio yang baik mampu menggambarkan secara akurat level yang terendah dan level yang tertinggi sama halnya dengan analogi visual dimana yang berkualitas adalah yang mampu merekam bayangan di malam hari dan siang hari.

 

Ketika dynamic range dalam musik hilang, pendengar semakin sulit untuk mempersepsi emotion, punch dan clarity. Reproduksi musik jelas membutuhkan ruang yang lebar antara signal yang paling rendah dan yang paling keras.

 

Wacana dynamic range sebenarnya juga tergantung pada jenis musik yang direproduksi. Jenis musik seperti Punk dan Metal jelas tidak memiliki dynamic range yang lebar karena beat mereka yang constant, semua berada pada satu volume. Tapi bukan berarti itu menjadi sebuah pembenaran bahwa jenis musik seperti ini juga harus selalu mengejar loud dalam reproduksinya.

Permasalahan revolusi digital dalam reproduksi musik tidak hanya pada dynamic range yang semakin lama semakin rendah levelnya. Ketika average level (RMS) dinaikkan dan peak level dijaga sedemikian rupa yang semata  hanya mengejar loudness, ada harga yang harus dibayar. Apa itu? Distorsi! 

Sedikit mbleber ke dapurnya mastering engineer

Ini cara mastering engineer mengejar loudness.

Compression (digunakan untuk menaikkan average level. Ingat semakin tinggi average level seharusnya peak level juga mengalami peningkatan)

Limiting (sama seperti kompresi hanya ratio yang digunakan lebih tinggi fungsinya untuk menjaga peak level selalu berada pada tempatnya)

Digital “Brickwall” Limiting (advance limiting hanya saja dibumbui oleh teknologi yang dinamakan “look ahead”)

Clipping ( Perkembangan lebih lanjut tentang bagaimana meng-overload input analog ke digital dalam rangka mengejar loudness).

 

Di domain digital, ada yang dinamakan “measurable scale”, ketika signal melewati ambang batas scale ini yang terjadi adalah digital clipping dan ini menyebabkan “unpleasant/unwanted distortion”. Berbeda dengan ranah analog, ketika signal mengalami peak (terlalu tinggi levelnya) yang terjadi adalah proses saturasi. Hasilnya sama yaitu distorsi, hanya saja distorsi yang dihasilkan dapat digunakan untuk kepentingan sonic purposes tertentu. Ingin lebih dalam lagi mengulas distorsi analog dan digital ? mari…..

Setiap AD/DA (analog-digital/digital-analog)converter memiliki kemampuan dalam merekonstruksi kembali signal yang masuk/keluar. Kemampuan yang dimaksud berkaitan dengan frequency response dan SPL handling. Ketika sebuah signal dalam digital domain mengalami peak, kemampuan converter untuk merekonstruksi signal tersebut mengalami penurunan. Rekonstruksi yang tidak sempurna dalam hal frequency response sering kali dinamakan aliasing. Ini yang menyebabkan kenapa distorsi dari digital clipping tidak enak didengarkan. 

 

Lalu mengapa kita bisa sampai pada perlombaan ini?

Sudah tidak bisa dipungkiri bahwasannya di era digital ini production music tidak mempunyai batasan, hanya langit yang mampu membatasi. Di era vinyl dan kaset, batasan fisik seakan menjadi dinding yang tebal, entah itu durasi pita, noise floor dan lain sebagainya. Yup, dari tahun ke tahun reproduksi musik semakin loud. Sistem playback untuk mendengarkan musik semakin berkembang, mulai dari Vinyl, tape, CD Player, Ipod hingga Blu-Ray. Nggak kalah berkembang juga environtment di sekitar yang semakin berisik, kemacetan, pekerjaan jalan,suara mesin, knalpot blombongan hingga orang stress yang suka teriak-teriak. Susah sekali mencari tempat yang nyaman untuk mendengarkan suara alam. 

 

Berangkat dari latar belakang inilah, pelaku industri musik seperti radio dan label berupaya untuk mencari perhatian lebih dari audiencenya di tengah environtment mendengar yang memang tidak nyaman lagi. Caranya, adalah dengan meningkatkan level loudness di siaran material audio mereka. Radio “meng-embedd” multiband limiter pada signal chain audio, record label berlomba-lomba mereduce dynamic range guna menambah loudness level pada setiap hasil rekaman mereka. Boom!!! mengatasi masalah dengan menambah masalah. Di tambah lagi kemalasan audience untuk mengadjust knob volume di setiap home stereo. Lengkap sudah…..

 

Sedikit bergumam, apakah ini yang menyebabkan respons manusia terhadap equal loudness semakin menurun? Apakah ini yang menyebabkan penjualan CD dari tahun ke tahun mengalami penurunan? 

 

Perdebatan tentang loudness war bukanlah sesuatu yang baru, setiap elemen dalam industri musik secara tidak langsung saling berapologize dan melakukan pembenaran terhadap wacana ini. Record label mengembalikan itu pada environtment, radio menyalahkan pendengarnya, mastering engineer mengangkat tangan pada produser dan audience pun tidak sadar apa yang terjadi pada mereka. Loudness war adalah sebuah labirin setan. Berani bersikap dan mengambil keberpihakan adalah langkah nyata yang setidaknya paling mudah untuk ditempuh.

Sengaja saya menyelipkan beberapa quotation tentang Loudness War.

 

Producer Butch Vig says “Compression is a necessary evil. The artists I know want to sound competitive. You don’t want your track to sound quieter or wimpier by comparison. We’ve raised the bar and you can’t really step back.”

“The latest Tool record, Lateralus [2001], is not that loud,” says Lambert. “But you know what? Nobody cares. It didn’t affect sales of the record, it sounds awesome and, as a fan, you’re going to listen to it for years. Some records will work really loud; others wear on you: They sound great the first two times, but then you just stop listening because they fatigue your ear. I know that and the engineers know that, but the consumer doesn’t know why they’re not listening to those records anymore.”

Here’s a quote from Roger Nichols, one of the participants on that panel.  “Last month, I listened to all the CDs submitted to NARAS for consideration in the ‘Best Engineered Non-Classical’ Grammy category.  We listened to about 3 to 4 cuts from the 267 albums that were submitted.  Every single CD was squashed to death with no dynamic range.  The Finalizers and plug-ins were cranked to ‘eleven’ so that their CD would be the loudest.  Not one attempted to take advantage of thedynamic range or cleanliness of digital recording.”- Roger Nichols Grammy winning engineer for Steely Dan, Beach Boys andmore. EQ Magazine January, 2002, issue.

Mr Mew, who joined Abbey Road in 1965 and mastered David Bowie’s classic 1970s albums, warned that modern albums now induced nausea. He said: “The brain is not geared to accept buzzing. The CDs induce a sense of fatigue in the listeners. It becomes psychologically tiring and almost impossible to listen to. This could be the reason why CD sales are in a slump.”

Geoff Emerick, engineer on the Beatles’ Sgt. Pepper album, said: “A lot of what is released today is basically a scrunched-up mess. Whole layers of sound are missing. It is because record companies don’t trust the listener to decide themselves if they want to turn the volume up.”

Bob Dylan has joined the campaign for a return to musical dynamics. He told Rolling Stone magazine: “You listen to these modern records, they’re atrocious, they have sound all over them. There’s no definition of nothing, no vocal, no nothing, just like – static.”

“We’re conforming to the way machines pay music. It’s robots’ choice. It used to be ladies’ choice — now it’s robots’ choice.”
Donald Fagen, producer and Steely Dan frontman

This is what I think is happening: Everybody has iPods, so you can’t get them that loud. So they have a algorithm called a “finalizer” — it’s not that new, but the way people are using it is new — and it makes your music sound louder. People will ruin their records and CDs. I was really stunned by the CD the guy gave me when I listened to it at home — it sounded crazy! It was like, abort mission! Supposedly it sounds fine on your iPod, but if you take the CD and put it on your hi-fi CD player you can hear the digital clipping. It’s a big news story over in England.”
Kim Deal, on mastering the new Breeders album, Mountain Battles

Ada beberapa pihak dalam industri ini yang telah mengambil langkah nyata untuk concern terhadap Loudness War, diantaranya :

1.Turn Me Up (http://turnmeup.org/)

Turn Me Up!™ is a non-profit music industry organization campaigning to give artists back the choice to release more dynamic records. To be clear, it’s not our goal to discourage loud records; they are, of course, a valid choice for many artists. We simply want to make the choice for a more dynamic record an option for artists.

2.Dynamic Range Radio(http://dynamicrangeradio.blogspot.com/)

Dynamic Range Radio is an eclectic internet radio station playing a wide mix of music 24/7 without commercials or annoying chit-chat between songs. Broadcasting from Vancouver, Canada, Dynamic Range Radio is committed to the idea of radio as an art form, offering carefully-crafted sets built around themes while focusing on smooth segues and sound quality.

3.Pleazure Music Foundation (http://www.dynamicrange.de/)

The Pleasurize Music Foundation is a global umbrella organization that integrates all music related groups. The PMF represents specific interests of music listeners, musicians, composers, producers, engineers, music instrument manufacturers, consumer electronic manufacturers, proaudio companies, record labels, retailer and broadcaster. On the one hand we create quality marks to reestablish trust into the product “music” and support consciousness for high fidelity sound experience through education on the other hand. This supports a healthy basement for the whole audio related branch. 

Reference :

http://entertainment.timesonline.co.uk/tol/arts_and_entertainment/music/article1878724.ece

http://performermag.com/loudness.php

http://mixonline.com/mag/audio_big_squeeze/

http://musicmachinery.com/2009/03/23/the-loudness-war/

http://www.digido.com/level-practices-part-2-includes-the-k-system.html

http://www.chicagomasteringservice.com/loudness.html

http://www.rollingstone.com/news/story/17777619/the_death_of_high_fidelity/1

http://en.wikipedia.org/wiki/Dynamic_range

http://www.cdmasteringservices.com/dynamicrange.htm

http://dynamicrangeradio.blogspot.com/

http://www.cadenzarecording.com/

http://turnmeup.org/

http://www.dynamicrange.de/


About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s